DI TERIMAKAH AMALKU….???

Di antara indikasi (tanda) keimanan yang sempurna adalah adanya rasa selalu khawatir atau takut tidak diterimanya amal. Perasaan sepeti itu sendiri akan menjadi pemicu yang menunjukkan grafik peningkatan iman seseorang. Imam ibnu Katsir menyebutkankan dalam kitabnya beliau menukil sebuah hadis dari Ja’far berkata; “aku telah mendengar Abu ‘Imran berkata: “Umar ibn al-Khathab radiyallahu’anhu melewati sebuah tempat peribadatan seorang pendeta, kemudian Umar ibn al-Khathab memanggilnya: “wahai pendeta...”, pendetapun melihat kepada Umar ibn al-Khathab. Dan Umar ibn al-Khathab kembali melihat kepadanya dan menangis. Pendeta itu bertanya kepadanya: “wahai amiril mukminin (pemimpin kaum muslimin) apakah yang membuatmu menangis? Ia pun menjawab: “aku mengingat firman Allah subhanahu wata’ala dalam al-Qur’an (yang artinya;) “bekerja keras lagi penuh kepayahan.(akan tetapi) Memasuki api yang sangat panas (neraka)”. (QS. Al-Ghasyiyah: 3-4) maka hal itulah yang membuat aku menangis”. (Tafsir ibn Katsir surat al-Ghasyiyah)
Keterangan hadis di atas menggambarkan perasaan khawatir sahabat Umar ibn al-Khatab radiyallahu ‘anhu padahal beliau adalah salah seorang sahabat yang telah mendapat jaminan masuk surga, sebagamana informasi hadis Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam. Maka sebaliknya kita yang notabene hidup di akhir zaman yang penuh dengan tantangan fitnah harus lebih memunculkan rasa khawatir atau takut tidak diterimanya amalan yang telah dilakukan, dengan mengevaluasi dua syarat diterimanya sebuah amalan yang diharapkan dapat menjadi panduan untuk selalu menimbang setiap amalan. Pada edisi kali ini kami akan membahas Dua Syarat Agar Diterimanya Amalan Seorang Hamba. Di antara syarat tersebut adalah;
  1. Ikhlas dalam beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala
Ikhlas adalah aplikasi dari syhadat yang pertamanya yaitu أشهد أن لا إله إلا الله” yang artinya “aku beraksi bahwa tiada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah” ini mensyaratkan pada pemurnian segala bentuk ibadah hanya untuk Allah ta’ala semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya yang artinya; “Padahal mereka tidaklah diperintahakan kecuali hanya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah; 5)
Dalam sebuah hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya; “sesungguhnya Allah tidak menerima sebuah amalan kecuali amalan yang di ikhlaskan hanya untuk-Nya dan mencari wajah Allah ta’ala semata”. (HR. an-Nasa’i: 3153)
Bahwa kesyirikan dapat diartikan menyekutukan Allah (menduakan) yaitu menjadikan bagi Allah ta’alatandingan atau sekutu dalam beribadah kepada-Nya, atau juga ia beibadah akan tetapi ia juga beribadah kepada selain-Nya. Allah subhanahu wata’alaberfirman yang artinya; “Jnganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah sedangkan kalian memngetahui”. (QS. Al-baqoroh: 22)
Contonya riya’ yaitu upaya memperlihatkan amalan kepada orang lain agar ia di puji dengan beribadah kepada Allah sekaligus kepada selainnya dan agar disanjung oleh orang lain. kemudian contoh yang lain sum’ahyaitu memperdengarkan apa yang telah ia lakukan dari ibadah dan amalan-amalan yang lain. Ataupun ‘ujubyaitu ia berbangga diri dengan amalannya, semua ini bentuk kesyirikan yang harus dijauhi oleh setiap hamba agar amalnya bisa masuk kedalam kriteria syarat diterimanya amal yang pertama yaitu ikhlas. Nabi sallallahu’alaihi wasallam bersabda yang artinya; “sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah ta’ala akan mengatakan kepada mereka pada hari kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia, “pergilah kalian kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapatkan balasan dari sisi mereka?”.(HR. Ahmad, v/428-429. Lihat Silsilah Ahaadits Ashahihah, no. 951)
  1. Al-Ittiba’ (sesuai dengan yang di contohkan oleh Nabi sallallahu’alaihi wasallam)
Al-ittiba’ merupakan makna dari syahadat yang kedua yaitu “أشهد أن محمدا رسول اللهyang artinya “aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya; “dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat di atas menerangkan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kita untuk senantiasa mengikuti tuntunan Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam, karena dia adalah suri tauladan bagi ummat dan sejatinya beliau sallallahu’alaihi wasallam tidaklah berucap melainkan wahyu dari Allah ta’ala. Allah ta’alaberfirman yang artinya; “Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (QS. An-Najm: 4-5)
Rasullah sallallahu’alaihi wasallambersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, yang artinya; “apa yang aku larang untuk kalian maka jauhilah dan apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya celaka orang-orang sebelum kalian karena banyak bertanya dan menyelisihi para Nabi mereka”. (HR. Muslim: 6259)
Dan Allah subhanah wata’alaberfirman yang artinaya; “Katakanlah! “jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali-Imran: 31)
Karena sesungguhnya apa yang Allah perintahkan dan Rasul-Nya melainkan demi kemaslahatan dan kebaikan untuk ummatnya dan apa saja yang Allah dan Rasul-Nya larang melainkan karena adanya mudharat dan kecelakaan bagi umatnya. Dan kita buktikan cinta kita kepada Allah dengan mengikuti Nabi Muhammad sallallahu’ala wasallam, dengan melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang.
Dua syarat di atas telah terangkum dalam firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya; “Barangsiapa yang berharap perjumpaan dengan rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Robbnya”. (QS. Al-Alkahfi; 110)
Selaras dengan makna ayat di atas imam Ibnu Katsir rahimahullahmengatakan: “dua hal ini merupakan dua rukun amalan yang diterima oleh Allah subhanahu wata’ala, jadi suatu amalan harus ikhlas karena Allah ta’ala sematadan sesuai dengan syari’at Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam”. (Tafsir Ibnu Katsir, QS. Al-Kahfiy: 110)
Oleh karena itu amalan-amalan orang kafir dan musyrik tidak akan menghasilkan apa-apa, berapapun banyaknya dan apapun bentuknya. Karena amalan-amalan mereka tersebut tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wata’ala. Allah ta’alatelah mengabarkan kepada kita melalui firman-Nya dalam al-Qura’an yang artinya; “Dan kami hadapkan segala amalan yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal tersebut bagaikan debu yang berterbangan”. (QS. Al-Furqan: 23)
Semoga kita dimudahan oleh Allah ta’aladan selalu diberikan hidayah dan taufik-Nya agar selalu istiqomah dalam menjalankan ibadah kepada-nya. Dan menjadikan kita orang-orang yang ikhlas di atas ketaatan-Nya dan ibadah sesuai dengan apa yang di contohkan Rasulullah sallalahu’alaihi wasallam.
Oleh: Abdurrahman (Abu Fadza)


Share on Google Plus

About Muhammad Suhaimi

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar